FPI Dimata Bebek Liberal
Satu minggu ini, kawan-kawan dari Front Pembela Islam (FPI) sedang menjadi sorotan akibat beberapa kejadian maupun insiden yang terjadi di kendal, jawa tengah. Apalagi ditambah dengan pemberitaan media massa liberal yang cenderung memanas-manasi kondisi dan sering mengaburkan fakta yang terjadi.
Akibat provokasi media liberal tersebut tidak sedikit orang-orang yang membenci FPI terutama para penyembah dollar (baca : liberalis) yang tidak sendang indonesia ini menjadi negara yang bermoral, maju, dan sejahtera sebab bagi mereka hanya dollar lah yang patut meeka majukan.
Bahkan sampai ada yang ekstrim mengatakan bahwa Indonesia ini bukan negara agama tapi negara demokrasi sehingga sangat setuju jika FPI dibubarkan. Lucu bukan... kelihatan asbun dan penuh kebencian serta tendensius.
Sejak kapan FPI memproklamirkan bahwa kegiatan yang mereka lakukan adalah dalam wujud negara agama? Bukankah yang mereka lakukan adalah bentuk peminimalisiran penyakit-penyakit masyarakat seperti pelacuran, perjudian, premanisme, dan lain sebagainya.
Jika kita melihat fakta bukankah sudah jelas aktifitas penyakit masyarakat tersebut banyak dibekingi oleh pman-preman bahkan bisa jadi warga itu sendiri dimana, misal, komplek pelacuran itu didirikan. Masyarakat melihat aktifitas tersebut jadi sisi penghasilan mereka dengan menyewakan pondok dan lain sebagainya... Halooo buka mata anda!!! Penyakit Masyarakat Kok Dibela..?
Apa yang sulit atau ogah-ogahan diselesaikan oleh pihak kepolisian itulah yang dikerjakan olehkawan-kawan FPI. Coba jika polisi lebih cepat dan tanggap dalam memberantas perjudian, pelacuran, serta premanisme, apakah anda akan melihat FPI akan membabi buta? Tidak...!
Bukankah sila pertama dalam Pancasila adalah sila Ketuhanan Yang Maha Esa..? Artinya nilai-nilai moral dari setiap agama juga menjadi landasan dalam melihat sebuah persoalan masyarakat. Saya hanya ingin bertanya, agama mana yang melegalkan pelacuran, perjudian, dan premanisme? berikan saya jawaban!!!
Lantas jika kita memberantas pelacuran, perjudian, premanisme yang didalam agama saja dilarang bukan berarti kita berfikir ini negara agama... halooo tolong betulkan lagi konsep negara agama dalam otak anda.
Ini alam demokrasi, yang sudah jelas kalo pelacuran, perjudian, premanisme dll sebagai penyakit masyarakat yang pastinya merusak kualitas bangsa Indonesia serta akan menghancurkan generasi muda Indonesia.
Silahkan anda berfikir... atau anda tetap berfikiran seperti para bebek-bebek liberal... semua terserah anda.
Senin, Juli 22, 2013 | Label: cerite orang kampong | 0 Comments
Inisial H
Bagi kawan-kawan yang pernah mendengar atau menonton anime jepang yang berjudul Inisial D pasti tahu kan gimana kisah sang detektif tersebut? Nah kali ini saya akan mengulas Inisial H. Kerabat jauh sekali dari Inisial D.
Inisial H bukanlah sebuah komik ataupun anime Jepang melainkan sebuah fenomena lucu perpolitikan di Indonesia. Inisial H yang saya maksud adalah titel "Haji/Hajjah" yang disematkan oleh para politisi di negeri ini.
Kawan-kawan pasti sering melihat begitu banyak spanduk, baliho, poster, hingga selebaran para politisi ketika mereka mengkampanyekan diri mereka saat akan bertarung di pilkada ataupun di pemilihan legislatif. Semua memasang inisial H mereka seolah menggambarkan mereka ini layak dipilih di negeri mayoritas muslim Indonesia ini. Namun sangat disayangkan inisial H yang mereka sematkan di depan namanya untuk mayoritas politisi berbanding terbalik dengan nilai dan akhlaq seorang yang menyandang inisial H.
Contoh sederhana, ada seorang politisi merah (baca : PDIP) begitu luar biasanya menyandang inisial H dalam setiap spanduknya namun jika melihat ruangannya di gedung dewan ada banyak botol miras kelas atas yang harganya ratusan bahkan jutaan rupiah..... mantap kan??? belum lagi dengan amalan-amalan dalam syariat Islam, pastinya ngga akan dikerjakan. pastinya masih banyak lagi contoh lainnya.
So... jangan mudah terperdaya oleh setiap politisi yang menyandang inisial H di depan namanya. Pastikan dulu apakah mereka layak menyandang inisial itu atau inisial H hanya dijadikan sebatas status sosial dan status politik untuk meraih keuntungan pribadi.
oleh karena itu kudu jeli kita melihat apakah mereka yang menyandang inisial H itu rajin sholat, mengaji dan aktifitas keislaman lainnya. Minimal jika mereka menjaga shalat 5 waktunya maka politisi seperti ini bisa kita pilih di pilkada atau pileg nantinya.
last... selamat menganalisa dan memilih..... ^_^
Kamis, Juli 18, 2013 | Label: politik galau | 0 Comments
Parkir apa Parkir.... ;)
Pagi tadi saat melintasi jalan Ahmad Yani sempat melihat Baliho besar di depan GOR dengan banyak umbul-umbul. Oh, ternyata ada kompetisi bola basket pelajar. Nah apa yang menarik dari kisah ini? Lihatlah jejeran motor yang terparkir rapi di depannya dan lihatlah wajah sumringah segerombolan lelaki yang memegang karcis atau tiket parkir atau apalah namanya. Kemudian zoom lebih dekat tiket parkir itu... apa yang anda lihat? RP 2.000
Apa ada yang salah? Menurut kacamata kuda yag saya pakai, itu salah. Salahnya dari mana? salah dari nominalnya lah... hehehehe..... bukankah perda yang dikeluarkan oleh Pak Walikota itu setiap parkir kendaraan untuk sepeda motor Rp 500 dan mobil Rp 1000 ? Bukankah ini sudah melanggar aturan pemerintah itu sendiri?
Kesalnya itu loh, sudah parkirnya 2000, karcisnya juga ngga ditulis, keamanan motor belum tentu juga, kalo hilang kan ngga dapet gantinya. Belum lagi pakir mobil, bisa kena 5.000 lo.... wow...
Bisa dibayangin berapa pendapatannya dan berapa yang disetor ke negara? #eh nga tau sih disetor apa ngga ke negara. Kalo setoran ke "BOS PJ GOR" pasti ada lah... xixixi...
Senin, April 29, 2013 | | 0 Comments
Langganan:
Postingan (Atom)